PENGELOLAAN BAHAN BUKAN BUKU


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan sangatlah penting seiring dengan perkembangan zaman. Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan diperlukan adanya sarana dan prasarana guna meunjang pendidikan tersebut. Salah satunya yaitu dengan adanya perpustakaan. Di mana kedberadaan perpustakaan sangatlah penting. Di dalam perpustakaan tentunya juga menyediakan bahan pustaka.
Pada umumnya, bahan pustaka yang terdapat dalam perpustakaan berupa buku. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut pula adanya bahan pustaka bukan buku. Hal ini dilakukan agar sumber informasi yang terdapat didalamnya menjadi lebih lengkap, menarik dan bervariatif. Selain itu, perpustakaan dapat pula menyediakan informasi dalam bentuk yang lebih sesuai dengan bidang subyek dan sifat pemakainya, sehingga akan dipandang sanggup memberi pelayanan yang baik. Oleh karena itu, pengembangan bahan pustaka bukan buku dirasa perlu. Dalam pembahasan ini, akan dibahas mengenai bahan pustaka bukan buku.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dengan disusunnya makalah ini, yaitu :
a.    Apa saja yang termasuk dalam sumber – sumber informasi bahan bukan buku?
b.    Apa saja ciri dan contoh – contoh dari bahan pustaka bukan buku ?
c.    Permasalahan – permasalahan apa yang terdapat dalam pengolahan bahan bukan buku ?

C.    Tujuan
Adapun tujuan dengan disusunnya makalah ini adalah untuk menambah wawasan, pengetahuan mahasiswa / mahasiswi mengenai pengolahan bahan bukan buku dan untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang permasalahan – permasalahan apa saja yang terdapat dalam pengolahan bahan bukan buku, sehingga dengan mengetahui hal tersebut nantinya dapat memaksimalkan pengolahan bahan bukan buku untuk lebih baik dan meningkat lagi.


 BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sumber – Sumber Informasi
Istilah bahan pustaka bukan buku sesuai dengan istilah yang dipergunakan oleh Proyek Pengembangan Sistem Standarisasi Nasional LIPPI dan hasil diskusi kelompok KJIP-FSUI, 27 Maret 1981. Sedangkan Anglo-American Rules edisi 2 (AACR2) menetapkan pula peraturan katalogisasi untuk pengolahan bahan bukan buku.
Sumber – sumber informasi
Adapun  sumber – sumber informasi untuk pembuatan katalog deskripsi bahan bukan buku, yaitu :
1.      Karya itu sendiri, sebagai sumber utama informasi;
2.      Wadah, berupa kotak, sampul, dan sebagainya.
3.      Bahan penyerta karya tersebut, misalnya buku petunjuk, buku pedoman guru, naskah, dan lain – lain.
Susunan urutan unsur – unsur serta tanda baca katalog deskripsi bahan bukan buku, yaitu :
1.      Tajuk entri utama
Ada beberapa kemungkinan dalam penentuan pemilihan tajuk entri utama, yaitu :
a.       Judul
Judul merupakan tajuk entri utama untuk bahan bukan buku karena di samping sebagian besar karay bahan bukan buku merupakan hasil karya bersama, karya bahan bukan buku lebih dikenal pada judulnya.
 b.      Judul seri
Dalam hal tertentu, judul seri dapat dipakai sebagai tajuk entri utama, dan judul karya tersebut sebagai anak judul. Contoh :
Judul karya                  : Penduduk dan Alam Indonesia
Judul seri                     : Geografi Indonesia
Tajuk seri utama          : Geografi Imdonesia : penduduk dan alam Indonesia
c.       Pencipta atau pengarang karya bahan bukan buku
Yang termasuk ke dalam pencipta yaitu artis, fotografer, komponis, penulis naskah, dan lain – lain.

2.      Daerah judul atau jenis kelompok umum dan pernyataan tanggung jawab kepengarangan
Pada umumnya, judul ditulis sama seperti apa yang tercantum dalam sumber utama informasi. Akan tetapi, bila judul terlalu panjang, maka dapat dihilangkan sebagian dengan menggunakan tanda titik tiga (…). Terkadang, suatu karya bahan bukan buku tidak mempunyai judul. Seperti kataloger dapat memberikan judul untuk karya tersebut dissuaikan dengan isinya, dan judul tersebut dapat diletakkan di antara [  ]. Adapun jenis kelompok umum dipergunakan untuk membedakan jenis bahan bukan buku yang satu dengan yang lainnya. Jenis kelompok umum dicantumkan di antara [  ].
Contoh :
            The Language of Color. [ Film rangkai ]
Pernyataan tanggung jawab kepengarangan dituliskan sama seperti apa yang tertulis dalam sumber informasi. Termasuk ke dalam pernyataan tanggung jawab kepengarangan ialah orang atau badan korporasi yang terlibat dalam pembuatan karya tersebut, misalnya illustrator, editor, sutradara, produser, dan lain – lain.
 3.      Daerah edisi
Edisi ditulis sama seperti apa yang tercantum di dalam sumber informasi dengan mempergunakan angka arab.
 4.      Daerah publikasi dan distribusi
Daerah publikasi dan distribusi ini meliputi tempat penerbitan atau tahun produksi. Apabila tempat penerbit atau tempat produksi tidak diketahui, dicatat kata “s.1.” dalam [  ]. Sedangkan apabila tahun produksi tidak diketahui dapat dituliskan tahun copyright.

5.      Daerah deskripsi fisik
Daerah deskripsi fisik meliputi jumlah unit fisik dari karya tersebut dan penentuan jenis kelompok umum, lama masa putar, pernyataan suara, pernyataan warna, ukuran atau dimensi, dan pernyataan bahan penyerta, yaitu bahan yang disertakan untuk melengkapi karya tersebut.

6.      Daerah seri
Judul seri dicantumkan dalam kurung setelah kolasi.
Contoh :
            1 reel : 10 menit, bersuara, berwarna; 16 mm.
            ( Customer Education )
 7.      Daerah catatan
Daerah catatan direncanakan untuk menuliskan keterangan tambahan tentang karya tersebut, yang tidak dapat dicantumkan pada entri utama, untuk memperjelas tentang karya tersebut, antara lain :
a.       Judul lain untuk karya itu.
b.      Karya lain yang berhubungan dengan karya tersebut.
c.       Ringkasan isi karya itu.
d.      Isi karya itu.
8.      Nomor standart jarang dipergunakan
Film rangkai ( film strip ) adalah suatu golongan film 33 mm yang merupakan rangkaian gambar untuk diproyeksikan. Adapun sumber informasi untuk film rangkai, yaitu :
a.       Karya itu sendiri sebagai sumber utama informasi.
b.      Wadah tempat menyimpan karya itu.
c.       Bahan penyerta.

B.       Bahan Pustaka Bukan Buku
Adapun ciri dan contoh dari bahan pustaka bukan buku, adalah sebagai berikut :
a)      Materi yang mempunyai objek.
Contoh : Atlas, Grafik, diagram poster, lukisan, foto, slide, dan lain – lain.
b)   Rekaman Suara, misalnya: Pita suara, piringan hitam, CD (Compact disk), kaset.
c) Media pandang dengar : Film bersuara, slide bersuara (Sound slide), pita video, piringan perak video(CD), microfiche, microfilm.
d) Materi elektronik, optic, magnetic: CD Rom(Comapct disk –Read Only Memory), disket, pita magnetic, dan sebagainya.
e)  Kombinasi berbagai material dalam satu kesatuan seperti Kit Pendidikan, Kit FAO, Kit Penyuluhan.

C.      Sumber Lain
Pada umumnya, tajuk entri utama ada pada judul.  Bilamana dua atau lebih film rangkai tidak mempunyai judul bersama dan dilengkapi dengan suara dalam satu piringan hitam, maka film rangkai tersebut diperlakukan sebagai suatu kesatuan. Apabila beberapa film rangkai mempunyai satu judul seri atau set, maka tajuk entri utama ada pada judul seri / set dan nama masing – masing judul dituliskan pada daerah catatan serta dibuatkan entri tambahan untuk masing – masing judul.
Judul dituliskan sama seperti yang tertulis pada sumber utama informasi. Apabila ada judul lain yang tertulis pada sumber – sumber informasi lain, maka judul lain itu dicantumkan dalam catatan.

Chart
Bahan bukan buku yang merupakan lembaran informasi, disusun dalam bentuk tabel atau grafis, atau dengan menggunakan garis – garis bentuk.
Adapun sumber informasinya yaitu karya itu sendiri sebagai sumber utama informasi dan kemasan tempat bahan itu. Deskripsi fisik mencatat jumlah bahan, pertanyaan warna, dimensi. Di dalam catatn diteruskan keterangan atau penjelasan singkat tentang karya itu.

Gambar
Yang termasuk gambar, antara lain : reproduksi lukisan, foto, kartu pos, bergambar, poster, dan lain – lain.
Adapun sumber informasi utama yaitu karya itu sendiri. Sedangkan sumber informasi lainnya adalah tempat gambar itu, bahan penyerta, dan sumber lain kalau ada. Pada umumnya, judul sebagai tajuk entri utama. Di mana tajuk entri suatu lekisan ada pada pelukis karya tersebut. bila pelukis karya tersebut meragukan, maka tajuk entri utama ada pada judul. Diskripsi fisik mencantumkan jumlah karya itu jenis kelompok umum dan dimensi.

Film
Sumber utama film adalah karya itu sendiri, sumber lainnya dapat diperoleh dari label yang terdapat pada tempat film tersebut dan bahan peserta yang melengkapi.
Sebagai tajuk entri utama ialah judul. Di dalam daerah publikasi dituliskan tempat produksi, prosedur, tahun produksi, distributer, dan lain – lain. Daerah diskripsi fisik mencantumkan jumlah karya itu, lama masa putar, warna, suara, dimensi, dan seri kalau ada.

Kaset video
Kaset video merupakan salah satu jenis rekaman video. Sumber utama informasi dari film adalah karya itu sendiri dan label. Judul sebagai tajuk entri utama.
Daerah diskripsi fisik mencatat jumlah bahan, format bahan yang dicantumkan di antara kurung, misalnya ( beta format ).
Transparansi ialah gambaran atau tulisan pada bahan yang transparan yang direncanakan untuk dipergunakan dengan memakai OHP.

D.  Permasalahan Bahan Bukan Buku
Dalam pembuatan bahan bukan buku terkadang terdapat beberapa kendala atau masalah – masalah. Adapun masalah yang terjadi biasanya terdapat pada masalah pembuatan katalog deskriptif di mana secara garis besar masalah tersebut dapat dibagi menjadi dua permasalahan, yaitu :
1. Masalah yang disebabkan oleh ciri-ciri dan sifat dari bahan bukan buku, yaitu :
a.       Keragaman bahan non buku/bukan buku akan menuntut pengetahuan khusus tentang berbagai jenis bahan dengan ciri masing-masing berbeda.
b.      Kebanyakan bahan non buku belum bersifat stabil, artinya belum sampai pada fase yang dianggap mencapai bentuk yang permanen yang mungkin tidak akan berubah lagi.
c.       Bahan non buku tidak memunyai halaman judul atau padanannya sehingga pengkatalog sering mengalami kesulitan dalam memilih data yang mau ditransipsikan. Data yang ditemukan kadang bertentangan atau beda. Judul pada kemasan berbeda dari judul label, beda lagi pada judul title frames misalnya.
d.       Pengawasan bibliografi bahan non buku masih jauh dari sempurna, sehingga alat-alat bantu yang dapat memudahkan pencarian atau verifikasi data bibliografi untuk pengkataloggan sangat kurang. Situasi ini timbul karena sarana bibliografi, indeks panduan pustaka, yang komprehensif, pada umumnya merupakan hasil usaha yang hanya dapat berjalan dengan dukungan koleksi nasional yang berkembang karena adanya undang –undang wajib simpan, semua koleksi baik buku maupun non buku yang harus memberikan satu copy ke perpustakaan nasional, hal ini dirasa berat untuk bahan non buku.

2.  Masalah yang berkaitan dengan proses pengkatalogan. yaitu:
a. Pengawasan bibilografi bahan baku masih jauh dari sempurna sehingga alat bantu yang dapat mempermudah pencarian atau verivikasi data bibilografi untuk pengkatalogan masih sangat kurang.
b. Bagi kataloger pembuatan kartu katalognya agak sulit jika dibandingkan dengan buku yang fisiknya sudah jelas.
c. Karena fisiknya ada yang kecil, sehingga informasi untuk judul dan pernyataan tanggung jawab serta informasi lain sangat terbatas, sehingga tidak bisa langsung diketahui dan harus menggunakan alat elektronik.
d.Dalam pembuatan nomor panggil petugas sering kesulitan. Jika yang diproses adalah buku yang dilampiri lebih dari satu CD yang berbeda subjeknya.
e.  Untuk bahan non buku kode ISBN belum ada penjelasan.
f. Dalam pembuatan label untuk jenis bahan non buku lebih sulit jika dibandingkan dengan bahan koleksi buku, karena jenis fisiknya non buku berbeda-beda.(Poerwadi, 2008)
  
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :
Dari penjelasan tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pengolahan bahan bukan buku sangat diperlukan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menunjang dan perbaikan informasi untuk lebih lengkap, bervariatif, dan menarik. Adapun ciri dari bahan bukan buku, yaitu : materi yang mempunyai objek, rekaman suara, media pandang dengar, materi elektronik, dan kombinasi dari berbagai material dalam satu kesatuan. Selain itu, dalam pengolahan bahan bukan buku juga terdapat sumber – sumber informasi lainnya yang dapat pula digunakan untuk pengolahan bahan bukan buku.

 DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, Sugeng. 2002. Paparan Mata Kuliah Sumber Belajar. Semarang : Universitas Negeri Semarang.
http://aripudjiastono.blogspot.com/2009/01/pengolahan-bahan-non-buku.html








Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 komentar:

Poskan Komentar

Sharing Education